An
Nisa Latifa, prodi Psikologi, FIS UMPwr
SENSITIF BUKAN BERARTI “LEBAY atau baperan”
Dalam kehidupan kita sehari-hari
kita sangat akrab dengan kata “sensitif”, sensitive dapat diartikan sebagai perasaan
ataupun emosi seseorang. Terkadang orang yang sensitive dapat dengan mudah memasukan
perkataan maupun sikap seseorang kedalam hati, dan dengan mudahnya kita berkata
“ih sensi banget”, “udah deh biasa aja, jangan lebay”, “dih baperan amat sih kamu”,
“baru gitu aja udah baper”, “kamu mah sukanya dikit-dikit baper”, dan masih banyak
lagi ucapan yang dilontarkan. Dalam masyarakat, sensitive lebih sering di
artikan dan di labeli“Lebay”ataupun”Baperan”.
Banyak dari kita yang
belum tahu, sensitive bukan hanya tentang menggunakan perasaannya diatas logika,
bukan tentang mudah terenyuh melihat orang tua yang sudah tua dan berpakaian compang-camping
tanpa tempat tinggal, bukan tentang mudah menangis hanya karena menonton film,
bukan tentang kecewa hanya karena janjian yang tak jadi. Penelitian membuktikan
bahwa 15-20% masyarakat kita memang terlahir
dengan tingkat sensitive tinggi.
Dalam artikel ini saya Latifa,
mengajak masyarakat akademisi maupun umum untuk sama-sama mempelajari dan memahami
apa sesungguhnya HSP (Highly Sensitive
Person) dan bagaimana semestinya dan sewajarnya kita menyikapinya baik sebagai
seorang yang sensitive maupun masyarakat disekitarnya.
Selama ini HSP (Highly Sensitive Person) lebih sering
di labeli “Lebay atau Baperan”
Wajar
saja jika masyarakat kurang memahami Highly
Sensitive Person dan lebih sering dilabeli “Lebay maupun Baperan” sebab penelitian
pertama dilakukan pada tahun 1990. Elaine Aron adalah seorang psikolog yang
pertama kali mengadakan penelitian tentang HSP.
Menurut
Soons, Brouwers dan Tomic (2010), “… Sensitivitas mengacu pada kemampuan untuk menyadari
rangsangan intensitas netral atau emosional dari lingkungan, tubuh sendiri,
atau kognisi seseorang ”
Menjadi HSP tidaklah buruk
dan bukanlah sebuah gangguan, so positif
thinking
Menurut Aron seorang
HSP secara naluriah tahu seorang teman potensial atau musuh. Zeff (2004)
menyatakan, HSP “… cenderung baik, welas asih, dan pengertian, menjadikan kami
konselor alami, guru, dan tabib”. Selain sifat welas asih HSP, Zeff menemukan bahwa
HSP memiliki semangat dan penghargaan untuk cinta, seni, kecantikan,
spiritualitas, dan perasaan gembira.
Rendah
diri yang dilamai HSP dapat diakhiri dengan cinta-diri, dan kesabaran. Hati
yang lembut dan sensitive akan dapat memahami seseorang dengan sangat baik, tipe
pasangan setia dan penuh kasih, penyabar, dan in syaAllah benar-benar bisa menjadi
istri yang sholehah, ibu yang penyayang dan sabar.
Apakah HSP, kepribadian
introvert ataukah ekstrovert?
Tidak peduli apakah itu introvert maupun
ekstrovert, jika seseorang memiliki HSP tidak masalah. Ya kita pastinya pernah mendengar
apa itu introvert dan ekstrovert. Menurut Jung, orang dengan tipe kepribadian
ekstrovert memiliki ciri periang, sering berbicara, lebih terbuka dan lebih
dapat bersosialisasi. Sedangkan ciri-ciri orang dengan tipe kepribadian
introvert adalah memiliki sifat pemalu, tidak banyak bicara dan cenderung
berpusat pada diri mereka sendiri. Namun orang dengan HPS sering dilabeli dengan
tipe introvert.
Karakteristik
Kepribadian Sangat Sensitif Aron (2004) berpendapat bahwa HSP dapat diberi
label sebagai introvert karena kekayaan batin mereka kehidupan, kesadaran akan
detail, dan proses kognitif yang tepat waktu. Sebagai contoh, Bendersky dan
Shaw menyatakan, “HSP introvert, karena sikap mereka yang tenang dan kecenderungan
untuk berpikir sebelum bertindak, dapat terlihat oleh orang lain sebagai kompleks,
menyendiri, tidak ramah, dan bahkan tidak cerdas ” ( seperti dikutip oleh
Cooper, 2014, hlm. 6).
Terkadang
orang yang memiliki HSP dan introvert merasa mereka di tolak maupun di acuhkan dalam
masyarat. Sikap maupun kepribadian mereka yang tertup terkadang menjadikan mereka
susah untuk berintraksi, apalagi jika masyarakat sudah menutup diri untuk berintraksi
dengan HSP. Aron (1996) menemukan bahwa HSPs merasa terpisah dari 75-80% dari masyarakat.
Aron (1996) menyatakan bahwa pada abad ke-21, rangsangan lingkungan yang tidak dapat
diprediksi seperti teriakan sirene, cahaya terang, dan energy emosional memengaruhi
orang-orang di masyarakat. Aron (1996) menjelaskan bahwa HSP memiliki empat fungsi
dominan: perasaan, merasakan, berpikir, dan intuitif.
HSP bagaikan pohon penuh
buah, memberi tanpa mengharap
Mengapa
saya mengatakan bahwa seorang dengan sifat HSP seperti pohon dengan penuh buah? Karena pada dasarnya orang HSP
memiliki empati yang lebih tinggi dari pada non-HSP. Rasa empati dan sensitifnya
membuat ia lebih mudah berkorban untuk orang lain meskipun tanpa balasan.
Seperti pohon ia memberi tanpa diberi, ia memberi meski terluka, ia terus berusaha
kokoh meski dia tertiup angin yang sangat kencang.
HSP
terkadang terlihat bodoh, karena mungkin dia akan berkorban sepenuh hati,
bahkan dapat mengorbankan nyawanya hanya demi seseorang yang ia ingin tolong.
Ada sebuah kejadian dimana seorang HSP rela mengorbankan waktunya hanya untuk menemani
sahabatnya pergi, meskipun ia sendiri memiliki kegiatan lain. Terkadang HSP
sangat menjaga perasaan orang lain dan mengesampingkan perasaanya sendiri. Sebenarnya
apa yang dilakukan ataupun dikorbankan oleh HSP itu adalah refleksi diri maupun
emosi yang ingin dia dapatkan. Ia hanya meregres emosinya, sebenarnya dalam hati
yang paling dalam ia juga ingin ada seseorang yang mau berkorban sebesar
pengorbanannya.
Adler
lebih lanjut menggambarkan empati sebagai kemampuan untuk berjalan dalam diri
orang lain sepatu yang mengarah pada pemahaman tentang bagaimana perilaku mempengaruhi
orang lain di masyarakat. Adlerian alat-alat terapeutik termasuk empati kolektif
yang berkontribusi pada pengembangan tugas-tugas kehidupan, mengadopsi minat sosial
yang tulus, mengungkap ingatan masa kecil, dan mengidentifikasi keyakinan yang
salah (Sperry, 2011).
Apakah Anda termasuk
orang yang highly sensitive person?
Apakah Anda termasuk orang yang HSP?
Hemm ada beberapa karakteristik HSP, menurut Aron, yaitu:
1.
Merasakan sesuatu secara mendalam.
Seseorang yang
HSP, membutuhkan waktu untuk memikirkan sesuatu atau kejadian yag mendalam
tentang sesuatu.
2.
Lebih reaktif secara emosional.
Secara sadar
tidak sadar seorang HSP memiliki perasaan yang sentif terutama dalam menanggapi
lingkungan sekitar.
3.
Memerlukan waktu lama dalam membuat keputusan.
Seseorang dengan
HSP memerlukan waktu lama untuk memutuskan sebuah keputusan yang terbaik.
Memikirkan dengan berulang-ulang dampak positif dan negative dari sebuah
keputusan yang akan diambil.
4.
Sangat peduli detail.
Seorang HSP
adalah pendengar yang baik, dan seorang yang sangat perhatian. Seorang yang
penuh dan menunjukan rasa empatinya, dengan nyata.
5.
Mudah panik dan depresi.
HSP terkadang
mudah depresi karena ia begitu sensitive dengan lingkungan sekitarnya.
6.
Lebih cengeng.
Karena
sensitifnya yang tinggi, dia mudah menangis dengan perkataan orang yang kasar
dan juga sesuatu yang membuat hatinya terenyuh.
Belajar berdamai dengan
perasaan sensitive
Menjadi lebih baik dengan apa yang telah
Allah anugrahkan pada kita, yaitu hal perlu kitalakukan sebagai rasa syukur dengan
anugrah tersebut. Terkadang menjadi seorang HSP adalah hal yang tak diinginkan pada
sebagian orang, kaarena sifat yang begitu sensitif. Gimana sih cara kita dapat berdamai
dengan sifat sensitive? Aron menyarankan bahwa HSP dapat melakukan hal berikut untuk
berdamai dengan perasaan sensitif dan meningkatkan regulasi emosinya:
1.
Terima perasaan Anda
Kita
harus menyadari bahwa menjadi sensitive itu adalah anugrah dari Allah,
pemberian dari Allah yang tak semua
orang mendapatkannya. Dengan kita menerima dan menyadari perasaan kita, kita dapat
merasa nyaman tanpa harus mengeluh dan melihat bagaimana dan apa yang ada pada orang
lain.
Menjadi
dirisendiri akan membuat kita menjadi nyaman dengan diri sendiri, bahkan dengan
menjadi diri sendiri kita dapat mengembagngkan bakat kita, dan memunculkan inner beuty kita.
2.
Jangan malu dengan mereka
Memiliki
sifat sensitif bukanlah sebuah aib, bahkan sifat sensitif itu sangat penting. Tak
semua orang terlahir dengan kepekaan yang baik. Tak semua orang dapat memahami
orang lain dengan baik.
Jadilah
bangga pada diri sendiri, karena kamu dilahirkan dengan memiliki kelebihan
berupa kepekaan yang tak semua orang miliki.
3.
Percayalah Anda bisa mengatasi sebaik
yang dilakukan orang lain
Percaya
bahwa Anda bisa mengatasi perasaan sensitive dengan baik, seperti halnya orang
lain dapat melakukannya.
4.
Percayalah bahwa perasaan buruk Anda tidak
akan bertahan lama
Terkadang kita dapa
tmerefres diri kita. Dengan bermeditasi dan membiarkan diri kita sendiri dengan
pemikiran kita sendiri dan percayalah bahwa perasaan buruk Anda tidak akan bertahan
lama, maka Anda akan menjadi merasa lebih baik dan nyaman.
Anda HSP? Tenang Anda punya nilai lebih dan positif
HPS bukanlah sebuah kekurangan jika
dikelola dengan baik, bahkan kekurangan dapat berubah menjadi sebuah kelebihan.
Beberapa adalah kelebihan dari HSP:
1.
Memerlukan Banyak Waktu Tenang
Merenung itu
yang diperlukan bagi HSP
2.
Passionate
Seseorang akan
semangat bekerja atau menjalankan kegiatannya, jika ia memilki passionate
ataupun bakat yang sesuai dengannya.
3.
Kreatif
4.
Empati
Seseorang yang
memiliki sensitive yang tinggi ia akan merasa lebih peka terhadap perasaan
orang yang ada disekitarnya.
5.
Teliti
HSP lebih teliti
dengan apa yang da disekitarnya dan yang dia alami orang-orang disekitarnya.
·
Nauli Monica, 6 oktober 2017.
Highly Sensitive Person (HSP). https://www.facebook.com/notes/monica-nauli/highly-sensitive-person-hsp/1964402713845783/
·
Erin Freshwater. July, 2017. HIGHLY SENSITIVE PERSONALITIES.
Erin Freshwater All rights reserved

Terimakasih ini sangat bermanfaat khususnya untuk saya dan sangat memotivasi saya untuk menjalani hidup selanjutnya.....
BalasHapus