//

MENGENAL MACAM – MACAM GANGGUAN KEPRIBADIAN DALAM PSIKOLOGI

Share:


MARI MENGENAL MACAM – MACAM GANGGUAN KEPRIBADIAN DALAM PSIKOLOGI


            Kalimat  mengenai gangguan kepribadian pasti tidak asing lagi di telinga kalian, berbagai film bergendre gangguan kepribadian banyak diminati serta berbagai kasus atau berita terbaru mengenai gangguan kepribadian sering muncul di pemberitaan saat ini. Masih ingatkah anda mengenai kasus 2 pelajar kecanduan samrtphone? Kecanduan yang dialami oleh kedua pelajar tersebut menyebabkan gangguan kepribadian, dimana kepribadian berubah menjadi sosok yang jauh dari aslinya dan menganggap bahwa dirinya seorang pembunuh (https://www.liputan6.com/news/read/3230086/kecanduan-smartphone-2-pelajar-di-bondowoso-alami-gangguan-jiwa) . Pada kasus tersebut menjadikan sebuah pembelajaran baru, bahwa kepribadian seseorang dapat berubah. Untuk mengenali lebih lanjut mengenai gangguan kepribadian, simak artikel berikut :

                        Kepribadian merupakan sekumpulan sifat, karakteristik dan ciri khas seseorang dalam berpikir, bersikap, merasa dan berperilaku yang sudah tertanam kuat dalam diri seseorang. Pembentukan kepribadian dimulai dari lahir, dan terdapat berbagai faktor sebagai pembentukan kepribadian antara lain berupa pola asuh orang tua, lingkungan sosial dan kultural. Kemudian gangguan kepribadian adalah gangguan mental yang mengakibatkan adanya perubahan pada pola perilaku yang menetap yang menyebabkan memunculnya gangguan dalam fungsi perilaku dan sosial. Berikut macam – macam gangguan kepribadian :
1.    Paraniod

Seseorang paranoid sangat mencurigai orang lain dan beranggapan bahwa orang 
lain memusuhinya. Kecurigaan ini membuat seseorang menyalah artikan tindakan oranglain
sebagai sikap yang akan melakukan hal buruk terhadapnya.
Kecurigaan tersebut tanpa ada sebab yang jelas. seseorang tersebut bersikap curiga dan menyimpan iri hati, dengki dan dendam. Hal tersebut menyebabkan penderita mudah tersinggung dan mengalami kesulitan di tempat kerja. Pada PPDGJ (Pedoman dan Diagnosis Gangguan Jiwa) kecurigaan yang berlebih merupakan ciri khas dari gangguan ini.
2.    Skizoid
Seseorang schizoid senang mengucilkan diri dan cenderung tidak mengekspresikan perasaannya. 
Pada PPDGJ seseorang schizoid memiliki emosi yang dingin atau mendatar tidak peduli pujian dan kritik bagi dirinya dan tidak sensitif  terhadap norma serta kebiasaan sosial yang berlaku. Namun perlu dicatat bahwa penderita ini tidak rentan mengalami Skizofrenia yang merupakan gangguan delusi.

3.    Skizotipal

Seseorang skizotipal juga seseorang pendiri yang esktrim atau berpakaian yang eksentrik.
Mereka sering memiliki minat terhadap hal – hal yang berkaitan dengan sihir, supranatural atau topik seks yang tidak lazim.

4.    Antisosial (Dissosial)
Seseorang antisosial memiliki perilaku yang sangat tidak bertanggung jawab berupa tidak mempedulikan resiko tindakannya terhadap orang lain dan kerap menjadi pelaku tindak kriminal.
Pada PPDGJ seseorang antisosial tidak mampu memelihara hubungan yang lama meskipun tidak da kesulitan untuk mengembangkannya, sering melakukan kekerasan dan tidak mampu mengalami rasa salah menarik manfaat dari pengalaman khususnya hukuman. Seseorang skizotipal juga sangat cenderung menyalahkan orang lain.

5.    Boderline (Gangguan Kepribadian Ambang)

Seseorang borderline memiliki emosi yang tidak stabil sehingga kerap mengacam bahkan berusaha untuk bunuh diri. Seseorang borderline cenderung mengalami kekerasan fisik, penganiyaan seksual dan memiliki identitas dan harga diri yang terluka pada kehidupannya dimasa lalu.

6.    Histrionik

Seseorang histrionik sangat emosional dan selalu mencari perhatian. Berdasarkan PPDGJ seseorang histrionik mudah dipengaruhi oleh orang lain, teru menerus mencari penghargaan dari orang lain, berpenampilan yang merangsang dan terlalu peduli dengan daya tarik fisik. Seseorang ini memliki kebutuhan yang besar akan pengakuan bahwa dirinya menarik dan demi memperoleh pengakuan tersebut seseorang cenderung mengenakan pakain yang mencolok atau seduktif (menggoda).

7.    Narsistik

Seseorang narsistik merasa dirinya sangat penting seakan dirinyalah pusat dunia, sangat egois dan berusaha memanfaatkan atau mengambil keuntungan dari orang lain. Seseorang narsistik tidak akan henti – hentinya untuk mencari pengakuan dan perhatian dari orang lain.

8.    Avoidant (Menghindar

Seseorang dengan gangguan ini memliki sifat sangat pemalu (timid) dan mudah merasa malu. Pada PPDGJ penderita berlebihan terhadap kritik dan penolakan dalam situasi sosial,  tidak ingin terlibat dengan orang lain kecuali merasa dirinya yakin akan disukai serta menghindari aktivitas sosial dimana melibatkan banyak kontak sosial karena takut di kritik tidak didukung dan ditolak. Penderita sangat tersiksa oleh perasaan inferior (minder) yang parah.

9.    Dependen (Tergantung)

Seseorang dependen  akan melakukan hampIr segala cara untuk memperoleh persetujuan orang lain dalam hidupnya. Berdasarkan PPDGJ seseorang dependen memiliki ciri mendorong orang lain atau membiarkan orang lain untuk mengambil keputusan yang besar dalam hidupnya, meletakkan kebutuhan sendiri lebih rendah dari pada orang lain, perasaan yang tidak berdaya apabila sendirian, ketakutan akan ditinggalkan oleh orang yang dekat dengannya dan terbatasnya kemampuan untuk membuat keputusan sehari  - hari.  Seseorang dependen akan sukarela melakukan tugas – tugas yang tidak menyenangkan atau tidak disukainya hanya semata – mata demi memperoleh pengakuan dari orang lain.

10. Obsesif Kompulsif
Seseorang dengan obsesif kompulsif adalah seseorang yang perfeksionis yang kaku, selalu mengikuti aturan, mengacu ada kerapian dan keteraturan. seseorang ini akan bekerja terlalu kerasa, terobsesi pada detail dan khawatir mengenai segala sesuatu yang dikerjakannya tidak sesuai dengan keinginan atau tujuannya.

            Dari macam – macam gangguan kepribadian diatas dapat sebagai sumber pengetahuan dan informasi mengenai gangguan kepribadian yang terjadi pada manusia. Diharapkan jangan mudah melabeli diri sendiri dan orang lain mengalami gangguan – gangguan kepribadian diatas diperlukan seorang ahli dalam bidangnya yaitu Psikiater dan Psikolog mengenai diagnosis lebih lanjut. Setiap hal atau perilaku yang digunakan sesuai dengan taraf ukurannya maka akan berfungsi dengan baik namun ketika dilakukan secara berlebihan maka akan menimbulkan dampak yang kurang baik. Setiap menusia pasti memiliki masalah dan hambatan karena itulah kehidupan sebagai proses belajar dalam menjalani tantangan kehidupan, tidak ada salahnya jika anda pergi ke Psikolog. Kita harus mengerti bahwa setiap orang diberikan masalah yang berbeda – beda dan sudah sewajibnya kita mengahargai usaha dalam menjalani kehidupan.


Penulis : Mira Hidayati Ratna Sari
Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Muhammadiyah Purworejo

Referensi :
Friedman, Howard S. & Schustack, Miriam W. (2006). Kepribadian Teori Klasik dan Riset Modern Edisi Ketiga. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Maslim, Rusdi. (2013). Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas PPDGJ-III dan DSM-V. Cetakan 2 – Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Unika Atma Jaya. Jakarta: PT Nuh Jaya.
Kaplan, H.I & Saddock, B.J. Sinopsis Psikiatri Ilmu pengetahuan Perilaku Psikiatri klinis.
Jilid 2. 10th ed. Jakarta: Bina Rupa Aksara; 2007.



Tidak ada komentar

Omah Psikologi

Halaman

Entri Populer