Munchausen Syndrome merupakan istilah
penyakit mental, dimana seseorang pura-pura sakit atau sengaja menyakiti diri
sendiri demi mendapatkan perhatian maupun simpati dari orang lain. Seseorang
dengan Munchausen Syndrome seringkali memberikan tanda dan gejala sebagai
berikut:
1
Berpura-pura sedang mengalami gejala
penyakit tertentu. Tak jarang, mereka yang mengalami Munchausen Syndrome tega
untuk menyakiti diri sendiri atau memanipulasi hasil pemeriksaan medis, agar
orang lain percaya bahwa ia benar-benar sakit.
2
Memberikan riwayat medis yang tidak
konsisten atau berbeda-beda. Terkadang didramatisir.
3
Terjadi ‘kekambuhan’ gejala secara
berulang.
4
Gejala yang tidak jelas, dan justru
bertambah ‘parah’ setelah diberikan terapi.
5
Memiliki pengetahuan yang ‘luas’ seputar
terminologi atau kata-kata kedokteran, dan dapat menjelaskan penyakit secara
detail.
6
Mempunyai keinginan kuat untuk menjalani
prosedur medis atau tindakan lainnya.
7
Memiliki masalah identitas dan
kepercayaan diri.
8
Timbul gejala baru, padahal pemeriksaan
menunjukkan hasil yang negatif.
9
Gejala hanya timbul ketika pasien
diperiksa.
10
Memiliki riwayat mencari ‘kesembuhan’ di
sejumlah rumah sakit, klinik, atau tempat praktek dokter
11
Pasien sering menolak dokter untuk
menemui keluarga, teman, atau kerabatnya.
Munchausen Syndrome merupakan kondisi
yang kompleks dan sulit dipahami. Orang yang mengalaminya kerap menolak untuk
mendapatkan terapi secara psikologis.
Berdasarkan
beberapa riset dan studi kasus, faktor yang diduga menjadi penyebab Munchausen
Syndrome adalah
- Trauma
psikis atau riwayat penyakit saat anak-anak.
Pasien sering mencoba
mencari perhatian, karena sering diabaikan oleh orangtua atau memiliki trauma
masa kecil.
Anak yang banyak menjalani pemeriksaan
atau penanganan medis semasa kecil cenderung memiliki risiko lebih tinggi
mengalami Munchausen Syndrome saat dewasa.
- Gangguan
kepribadian
Beberapa gangguan
kepribadian yang sering dikaitkan dengan Munchausen Syndrome, misalnya gangguan
kepribadian anti-sosial atau gangguan kepribadian narsisistik.
- Kekecewaan
terhadap figur tertentu atau petugas medis
Seseorang yang kecewa,
memiliki dendam terhadap orang lain atau petugas medis yang pernah menangani
kondisinya cenderung memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami Munchausen
Syndrome.
Diagnosis Munchausen Syndrome
Diagnosis Munchausen
Syndrome tergolong sulit untuk ditegakkan. Sebab seseorang dengan kondisi ini
terlihat sangat meyakinkan dan memiliki kemampuan memanipulasi tingkat tinggi.
Mereka juga memiliki kemampuan dalam mengeksploitasi dokter.
Sebenarnya, Munchausen
Syndrome merupakan gangguan mental murni dan memerlukan penanganan oleh
psikiater. Penyebabnya pun perlu digali lebih dalam agar tidak terjadi berulang
kali.
Nurul Hidayati
Tidak ada komentar